Rabu, 08 November 2017

SIFAT-SIFAT SINAR X

1. Sifat-sifat sinar X :


     •Mempunyai daya tembus yang tinggi Sinar X dapat menembus bahan dengan daya tembus yang sangat besar, dan digunakan dalam proses radiografi.

        •Mempunyai panjang gelombang yang pendek Yaitu : 1/10.000 panjang gelombang yang kelihatan

        •Mempunyai efek fotografi. Sinar X dapat menghitamkan emulsi film setelah diproses di kamar gelap.

        •Mempunyai sifat berionisasi.Efek primer sinar X apabila mengenai suatu bahan atau zat akan menimbulkan ionisasi partikel-partikel bahan zat tersebut.

        •Mempunyai efek biologi. Sinar X akan menimbulkan perubahan-perubahan biologi pada jaringan. Efek biologi ini digunakan dalam pengobatan radioterapi.

2. Proses Terjadinya sinar X :

1. Di dalam tabung rontgen ada katoda dan anoda dan bila katoda (filament)
    dipanaskan lebih dari 20.000 derajat C sampai menyala dengan mengantarkan             listrik dari transformator,
2. Karena panas maka electron-electron dari katoda (filament) terlepas,
3. Dengan memberikan tegangan tinggi maka electron-elektron dipercepat
    gerakannya menuju anoda (target),
4. Elektron-elektron mendadak dihentikan pada anoda (target) sehingga
    terbentuk panas (99%) dan
sinar X (1%),
5. Sinar X akan keluar dan diarahkan dari tabung melelui jendela yang disebut
   
diafragma,
6. Panas yang ditimbulkan ditiadakan oleh radiator pendingin.
 3. Sinar-X Brehmsstrahlung


        Electron dengan kecepatan tinggi (karena ada beda potensial 1000 Kvolt) yang mengenai target anoda, electron tiba-tiba akan mengalami pelemahan yg sangat darastis oleh target sehingga menimbulkan sinar-x, sinar-x yg terjadi dinamakan “sinar-x brehmsstrahlung” or “braking radiation”. Pada waktu muatan (electron) yang bergerak dengan kecepatan tinggi (mengalami percepatan), karena adanya beda potensial, muatan (electron) akan memancarkan radiasi elektromagnetik dan ketika energy electron cukup tinggi maka radiasi elektromagnetik tersebut dalam range sinar-x.Sinar-x jenis ini tidak dipergunakan untuk XRD (X-Ray Difraction).
 4. Sinar-x karakteristik


        Electron dari katoda yang bergerak dengan percepatan yg cukup tinggi, dapat mengenai electron dari atom target (anoda) sehingga menyebabkan electron tereksitasi dari atom, kemudian electron lain yang berada pada sub kulit yang lebih tinggi akan mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh electron tadi, dengan memancarkan sinar-x yang memiliki energy sebanding dengan level energy electron. Karena sinar-X karakteristik memiliki Panjang gelombang tertentu yang dapat difilter, maka jenis ini banyak diaplikasikan untuk XRD (X-RAy Diffraction) dalam menentukan struktur material.

Pencucian Film Rontgen



TATA CARA MENCUCI FILM RONTGEN DENGAN MANUAL PROCCESSING

Setelah pemeriksaan x-ray sesuai prosedur Masuk kedalam kamar gelap kemudian usahakan tutup pintu dengan rapat karna film rontgen bisa terbakar terkena cahaya lampu kecuali lampu pijar merah yang ada didalam kamar gelap tersebut.

Buka kaset dan ambil jepitan film / hangger kemudian dimasukkan kedalam ; 
1. Pembangkitan (developing)


          Pembangkitan merupakan tahap pertama dalam pengolahan film. Pada tahap ini perubahan terjadi sebagai hasil dari penyinaran. Dan yang disebut pembangkitan adalah perubahan butir-butir perak halida di dalam emulsi yang telah mendapat penyinaran menjadi perak metalik atau perubahan dari bayangan laten menjadi bayangan tampak. Sementara butiran perak halida yang tidak mendapat penyinaran tidak akan terjadi perubahan.

Setelah terlihat bagian / organ yang di periksa lakukan : 

2. Pembilasan (rinsing)
Merupakan tahap selanjutnya setelah pembangkitan. Pada waktu film dipindahkan dari tangki cairan pembangkit, sejumlah cairan pembangkit akan terbawa pada permukaan film dan juga di dalam emulsi filmnya. Cairan pembilas akan membersihkan film dari larutan pembangkit agar tidak terbawa ke dalam proses selanjutnya.Pembilasan ini harus dilakukan dengan air yang mengalir selama 5 detik.

      
    Usahakan jangan ada bercak cairan yang tinggal di film rontgen akan mengganggu hasil film, kemudian lakukan :
      
      3. Penetapan (fising)
Diperlukan untuk menetapkan dan membuat gambaran menjadi permanen dengan menghilangkan perak halida yang tidak terkena sinar-X. Tanpa mengubah gambaran perak metalik. Perak halida dihilangkan dengan cara mengubahnya menjadi perak komplek. Senyawa tersebut bersifat larut dalam air kemudian selanjutnya akan dihilangkan pada tahap pencucian. Tujuan dari tahap penetapan ini adalah untuk menghentikan aksi lanjutan yang dilakukan oleh cairan pembangkit yang terserap oleh emulsi film.

4. Pencucian (washing)

Setelah film menjalani proses penetapan maka akan terbentuk perak komplek dan garam. Pencucian bertujuan untuk menghilangkan bahan-bahan tersebut dalam air. Tahap ini sebaiknya dilakukan dengan air mengalir agar dan air yang digunakan selalu dalam keadaan bersih.

5. Pengeringan (drying)

Merupakan tahap akhir dari siklus pengolahan film. Tujuan pengeringan adalah untuk menghilangkan air yang ada pada emulsi. Hasil akhir dari proses pengolahan film adalah emulsi yang tidak rusak, bebas dari partikel debu, endapan kristal, noda, dan artefak. Cara yang paling umum digunakan untuk melakukan pengeringan adalah dengan udara. Ada tiga faktor penting yang mempengaruhinya, yaitu suhu udara, kelembaban udara, dan aliran udara yang melewati emulsi.

Faktor - faktor pemotretan


 Faktor-faktor yang erat kaitannya dengan hasil suatu pemotretan terdiri atas :

®     Kilo Voltage (KV)
®     mA S (Milli Ampere Second)
®     Jarak Pemotretan
®     Grid
®     Ketebalan Obyek
®     Jenis Intensifying Screen
®     Jenis Film  Focal Spot
1. Kilo Voltage (KV)
  • Mengontrol Daya Tembus dan Kualitas Radiasi .
  • Dikaitkan dengan Jenis Obyek dan tebal  obyek .
  • Untuk menentukan patokan hubungan antara KV dengan tebal/ jenis obyek dapat dilihat pada tiap-tiap tabel pada pesawat yang digunakan.
  • Jika KV dinaikkan maka :
        1. Densitas foto naik
        2. Kontras foto berkurang
        3.  Radiasi hambur bertambah
  2. mA S (Milli Ampere Second)
¨          Mengontrol Kuantitas Radiasi
¨          mAS  = mA x S
¨          Contoh :
¨       mAs    =      mA                      x             S
¨       20        =      400                      x          0,05
¨       20        =      200                      x          0,01
¨       20        =      100                      x          0,02
¨       20        =      300                      x          …….. ?
¨       Untuk mencegah kekaburan foto karena pengaruh pergerakan obyek
       maka dipilih waktu eksposi yang singkat.
 3. Jarak Pemotretan
¨       Jarak Fokus ke Film (Focus Film Distance : FFD)
¨       Jarak Fokus ke Obyek (Focus Object Distance:FOD)
¨       Jarak Obyek ke Film) (Object Film Distance : OFD)
     
¨       A: Pemotretan dengan jarak seperti  di atas terlihat dalam  
           gambar untuk obyek  a  hasilgambaran sebesar  a 1
¨       B: Bila jarak Fokus - Film diperpendek obyek a akan tergambar lebih besar  (a2) -------->  :   a2  >   a 1
¨       C: Bila Jarak Obyek - film diperjauh , gambaran obyek  a
           akan lebih besar  ( a 3 >  a 1 )
¨       D: Bila jarak Fokus - Obyek diperjauh, gambaran akan  lebih
           kecil    dari semula  ( a 4 <  a 1 )                                          
¨       Kaitan  Jarak dengan  besaran  mAS  sebagai  pedoman adalah :
       Bila jarak pemotretan berubah maka besaran mAS harus dirubah agar  mendapatkan gambaran dengan densitas yang sama.
            mAs  baru    =           ( Jarak  fokus ke film baru) 2
                                          ( Jarak  fokus ke film lama ) 2           
4. Grid
•          Alat untuk  mengurangi radiasi hambur agar tidak  sampai  ke film
•          Penggunaan GRID berkaitan erat dengan pemberian mAs
•          mAs  dengan grid  = Faktor Grid x mAs tanpa Grid
•          mAs 2 =   faktor grid 2    x   mAs  1
                       faktor grid1
•            Contoh :
        Grid dengan grid ratio 4 : 1 s/d  6 : 1    faktor grid = 2
        Grid dengan grid ratio 7 : 1 s/d 10 : 1   faktor grid = 3
        Grid dengan grid ratio  di atas 10 : 1    faktor grid = 4
        Pada pemotretan abdomen dengan Grid ( faktor grid = 3)
        memerlukan eksposi  75 KV , 60 mAs
        Jika dilakukan tanpa grid berapa kondisi pemetretan yang
        diberikan ?
      
•          Hubungan KV dengan  mAs
 
•          Setiapkenaikan 10 KV mAs dikurangi  50 %
      ( kondisi pemotretan 60 - 80 KV)
•          KV1 5  x  mAs 1    =   KV 2  5    x   mAs 2
•          kondisi di atas 100 KV
•          Contoh :
•          Foto Thorax  A  dibutuhkan  60 KV , 20 mAs
•          Jika foto thorax A   diberikan  70 KV , berapa mAs nya ?
•          Kenaikan 10 KV berarti mAs turun 50 % dari mAs  semula
•          maka mAs yang diberikan sebesar  50 % x 20  =  10 mAs
5. Tebal Obyek
            Rule Of Thumb :
       Tiapketebalan naik 1 cm  maka :
        1. KV ditambah 2 KV pada pemotretan  40 - 80  KV
        2. KV ditambah 3 KV pada pemotretan  80 - 100 KV
       3. KV ditambah 4 KV pada pemotretan di atas 100 KV
       Rhinehart and Mc Lean :
       Dewasa :    KV  =  (d x 2)  +  22
       Anak     :    KV  =  (d x 3)  +  17                  d : Tebal  Obyek
•          6. INTENSIFYING SCREEN
•          mAs  dengan IS   =       mAs  tanpa IS          .
•                                             Faktor Intensifikasi
     mAs 2   =    faktor intensifikasi 1     x  mAs 1
                            faktor intensifikasi 2
•          Contoh :
       Foto dari suatu obyek memerlukan 55 KV , 5 mAs (menggunakan IS)
       dengan faktor intensifikasi = 15
       Bila pemotretan tanpa IS  berapa kondisinya ?
      
       mAs tanpa IS  =   mAs dengan IS x  faktor Intensifikasi
                                =              5               x       15
                                =                          75   mAs
PEMOTRETAN DENGAN GIPS  : 
Gips Kering  =   mAs   x       2       tanpa gips
Gips Basah    =   mAs   x    (3 - 4)  tanpa gips
7.  Jenis Film
      Jika film dengan  Low speed lebih tinggi   pemberian mAS nya    
        Jika film dengan  Fast speed lebih rendah  pemberian mAs nya
8.     Focal Spoot 
           Fokus kecil     sampai dengan 150mA     fokus besar  200 - 1000 mA

Minggu, 06 Oktober 2013

Teknik Radiografi Sialografi

Teknik Radiografi Sialografi


PENGERTIAN

Sialografi adalah suatu pemeriksaan radiografi pada bagian kelenjar ludah beserta salurannya dengan menggunakan sinar-x dan bantuan media kontras positif untuk menegakkan diagnosa. Kelenjar ludah terdiri dari 3 bagian :
1. Kelenjar parotis dengan salurannya, disebut saluran stensen
2. Kelenjar sub mandibula / sub maksila, disebut saluran Wharton
3. Saluran sub lingual, disebut saluran bartholin

INDIKASI

• Calculi
• Fistel pada saluran
• Divertikel
• Cyst
• Peradangan
• Stenosis

KONTRA INDIKASI
Inflamasi ductus dan alergi media kontras.

PERSIAPAN ALAT

• Spuit 2-5 cc
• Kateter dan canule sialografi ( bila tidak ada dapat menggunakan abocath )
• Alkohol
• Bengkok
• Media kontras ( Water Soluble )
• Kortison
• Pastiles / permen asam
• Antihistamin dan cortisone
• Plaster

PROSEDUR PEMERIKSAAN

1. Pasien tidur supine dan dibuat foto plain AP dan lateral.
2. Pasien diberi pastiles untuk merangsang air liur keluar.
3. Melalui keluarnya air liur dimasukkan jarum sialo dan dihubungkan dengan kateter dan diplester ke kulit.
4. Ujung kateter dihubungkan dengann spuit yang berisi kontras.
5. Kontras disuntikkan dan difoto.
6. Setelah selesai pemotretan pasien diberi minum asam supaya semua kontras terangsang keluar.

POSISI PEMOTRETAN

1. AP Tangensial (Untuk melihat kelenjar parotid)

Posisi Pasien
Supine/duduk

Posisi Obyek
• Kelenjar parotid ditempelkan pada tengah kaset.
• Kepala ditempatkan pada posisi AP.
• Kepala dimiringkan pada sisi yang diperiksa.
• Kelenjar parotid tegak lurus pada pertengahan film.
• Ramus mandibula sejajar film dan occipital rapat pada film.
• Kaset 18 x 24 cm.

Central Ray
Tegak lurus terhadap kaset

Central Point
Pada ramus bagian luar

FFD
90-100 cm

Kriteria Radiograf
• Terlihat jaringan lunak.
• Kelenjar parotid terlihat pada posisi lateral.
• Terlihat ductus stensen’s.
• Mastoid overlapping dengan batas atas dari kelenjar parotid.

2. Lateral Eisler (Untuk melihat kelenjar parotid dan submaxilaris)

Posisi Pasien
Semiprone/berdiri

Posisi Obyek (Untuk melihat kelenjar parotid)
• Kepala berada pada posisi lateral.
• Pertengahan film 1 inchi di atas angulus mandibula.
• MSP dirotasikan kedepan 150 dari posisi lateral.
• Kaset 18 x 24 cm

Central Ray
Tegak lurus terhadap kaset

Central Point
Pada angulus sebelah luar

FFD
90-100 cm

Kriteria Radiograf
• Tampak kelenjar parotid superposisi di atas ramus mandibula.
• Ramus mandibula terlihat tidak overlapping dengan vertebrae cervicalis.

Posisi Obyek (Untuk kelenjar sub maksilaris)
• Kepala true lateral di atas kaset.
• Margo inferior dari angulus mandibula pada pertengahan kaset.
• Kaset 18 x 24 cm

Central Ray
Tegak lurus pada kaset

Central Point
Pada angulus mandibula sebelah luar

FFD
90-100 cm

Kriteria Radiograf
• Tampak kedua ramus dan angulus mandibula superposisi.
• Kelenjar submaksilaris berada pada ramus dan angulus yang superposisi tersebut.

3. Submentovertex (Untuk melihat kelenjar submaksilaris dan sublingual)

Poisi Pasien
Supine/submentovertikel

Posisi Obyek
• Kepala ekstensi penuh dan vertex rapat pada kaset.
• Film diberi marker L/R dan diplester.
• Kaset dipasang melintang.
• Ujung film pada mulut rapat pada margo anterior dari ramus mandibula.
• Kaset 18 x 24 cm

Central Ray
Tegak lurus terhadap kaset

Central Point
Menuju langsung ke perpotongan MSP dengan coronal plain melalui molar

Kriteria Radiograf
• Terlihat soft tissue dari dasar mulut.
• Terlihat kelenjar sublingual dan duktusnya.
• Terlihat kelenjar submaksilaris pada bagian anteromedial.

4. Proyeksi Lateral Oblique

Posisi Pasien
Semiprone/oblique

Posisi Obyek
• Kepala ditempatkan pada kaset, daerah corpus mandibula berada ditengah kaset.
• Kepala ditengadahkan supaya kelenjar parotis rapat pada film.
• Kaset 18 x 24 cm

Central Ray
250 cephalad

Central Point
Di bawah angulus mandibula sebelah luar/pada sisi yang dekat

FFD
90-100 cm

Kriteria Radiograf
Tampak duktus dan kelenjar parotis overlapping dengan ramus mandibula dan columna vertebrae cervical.

Senin, 18 Februari 2013

Macam-macam Pesawat X-Ray

PESAWAT SINAR X ( DIAGNOSTIK )
  1.  GENERAL X-RAY
  • Suatu pesawat sinar x yang dapat melakukan beberapa fungsi penyinaran.
Komponen utama penyusun pesawat sinar x : 

  • HTT : penghasil tegangan yang di butuhkan untuk proses penyinaran ( untuk menghasilkan sinar x ).
  • X-Ray Tube : tempat terjadinya sinar x.
  • Treatment Table : tempat pasien yang akan diperiksa.
  • Kolimator : bagian yang membatasi luas daerah penyinaran.
  • Control Console : bagian tempat pengaturan fungsi fungsi penyinaran.
  • Image Intensifter : tempat proses pengolahan gambar.
  • Monitor : untuk melihah gambar yang telah di proses.

 2. DENTAL X-RAY

  • Pesawat panoura 10 C merupakan pesawat x-ray yang menggunakan teknik penyinaran secara panoramic dan secara cephalo.Pesawat ini sering digunakan untuk mendiagnosa keadaan gigi pasien.Juga dapat digunakan untuk mendiagnosa keadaan tulang rahang seseorang,karna pengukuran secara panoramic bisa lebih akurat.
  • Pengukuran secara cephalo biasanya digunakan untuk mengukur ukuran besarnya gigi sebelum pemasangan kawat gigi.
  • Pesawat Panoura 10 C mempunyai tegangan tabung sekitar 70 - 90 kV sedangkan untuk arus tabung hanya 10 mAs saja, karna hanya untuk mendiagnosa gigi saja.
 3. X-RAY MOBILE

  • Pesawat X-Ray Mobile adalah pesawat x-ray yang dirancang untuk mudah dipindah - pindahkan.
  • Biasanya digunakan diruangan perawatan intensif  seperti : 
  • ICU, NICU, GICU, PICU, atau ICCU.
  • Pesawat ini dilengkapi dengan roda yang memudahkan untuk di pindah-pindahkan.
  • Dan biasanya x-ray tube dan images intensifter diletakkan pada lengan yang unik bentuknya yang bisa dilipat ataupun berbentuk c-arm.
  • Dimana lengan tersebut dirancang untuk memudahkan operator dalam melakukan penyinaran terhadap pasien.

Minggu, 17 Februari 2013

Proses - Proses Penyinaran

Faktor Eksposi

  • kV
  • mA
  • S

  1. kV ( Kilo Volt )
  • Beda Potensial Antara Katoda dan Anoda
  • Tegangan Tinggi ( Dalam Satuan Kilo Volt )
  • Sumber Energi Kinetik Elektron
  • Proyektil
  • Lahir Sebagai Daya Tembus
2. mA ( Mili Ampere )
  • Arus Tabung ( Dalam Satuan Mili Ampere )
  • Jumlah Elektron Penumbuk Target
  • Lahir Sebagai Intensitas Sinar-X
  • Indikator Kapasitas Pesawat
3. S ( Second )
  • Waktu Eksposi ( Dalam Satuan Detik/Second )
  • Menunjuk Lamanya Tegangan Tinggi Bekerja
  • Batasan Waktu Terjadinya Sinar-X
  • Bersama mA,Menentukan Intensitas Sinar-X

Jumat, 15 Februari 2013

Teknik Pemeriksaan Schedel ( Kepala )


PROYEKSI AP


POSISI PASIEN

  • Pasien tidur pada posisi Supine di atas meja pemeriksaan, dengan MSP tubuh tepat pada Mid Line meja pemeriksaan.

  • Kepala diposisikan AP, dengan menempatkan :
  • MSP kepala tegak lurus pada bidang film.
  • Orbito Meatal Line (OML) tegak lurus dengan bidang film.

  • Pastikan tidak terjadi perputaran pada objek kepala
  • Letakkan Marker yang sesuai R atau L Lakukan fiksasi bagian kepala dengan menggunakan spon dan sand bag agar tidak terjadi pergerakan objek.
  • Atur Central Ray Tegak Lurus bidang film tepat dipertengahan film, dengan menyalakan lampu kolimator dan batasi luas lapangan penyinaran sesuai dengan besarnya objek.
  • Atur Central Point tepat pada Glabella atau pada Nasion, dengan memposisikan glabella atau nasion tepat dipertengahan bidang film.
  • Jika sudah siap seluruhnya, lakukan eksposi dengan faktor eksposi yang telah disesuaikan untuk pemotretan kepala posisi AP.
  • Selesai eksposi lanjutkan proses pencucian film

KRITERIA GAMBARAN

  • Seluruh kepala tampak pada proyeksi antero posterior, batas atas verteks, batas bawah simphysis menti, kedua sisi tidak terpotong
  • Kepala simetris, jarak batas orbita dengan lingkar kepala sama kiri dan kanan.
  • Tampak Sinus frontalis, maksilaris, sinus ethmoidalis, dan crista galli
  • Os frontalis tampak jelas. nMarker R/L harus tervisualisasi.



LUMBOSACRAL 1. anatomi lumbosacral           2. Persiapan Pasien    Tidak memerlukan persiapan kusus, hanya melepas  atau menyi...