Rabu, 08 November 2017

SEJARAH ANATOMI MANUSIA


Sejarah anatomi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari kronologi masalah anatomi mulai dari kejadian pemeriksaan kurban persembahan pada masa purba hingga analisa rumit akan bagian-bagian tubuh oleh para ilmuan modern.

Dalam perkembangannya, manusia kian memahami fungsi-fungsi dan struktur tubuh melalui ilmu anatomi. Metode pemeriksaan selalu berkembang, dari pemeriksaan tubuh hewan, pembedahan mayat, sampai ke teknik-teknik kompleks yang dikembangkan pada satu abad terakhir.
 
 ANATOMI KUNO
 
Masa ini dimulai setidaknya pada permulaan tahun 1600 SM, saat dikeluarkannya Papirus Ilmu Anatomi oleh ilmuwan peradaban Mesir Kuno. Pada saat itu telah dapat dikenali beberapa Organ dan pengetahuan dasar akan Pembuluh Darah.
Hippokrates adalah ilmuwan Kedokteran Yunani Kuno yang karyanya masih diakui hingga sekarang. Ia adalah seorang Dokter pada akhir abad ke-6 SM atau awal abad ke-5 SM. Hippokrates telah dapat memahami ilmu dasar mengenai Sistem Rangka dan Otot, dan awal pemahaman lebih dalam akan kerja organ seperti Ginjal. Namun, banyak karya lainnya yang didasarkan pada spekulasi bukan pada penelitian keilmuan.
 
Pada abad ke-4 SM, Aristoteles memulai
     penelitian yang lebih baik mengenai sistem tubuh
     melalui pembedahan tubuh hewan. Ia berhasil
     membedakan Pembuluh Bilik (vena) dengan Pembuluh
    (arteri) dan hubungan organ-organ yang lebih akurat.
Penggunaan tubuh mati Manusia atau Mayat untuk penelitian ilmu anatomi dimulai pada abad ke-4 SM, saat Herophilos dan Erasistrasus mempertunjukkan pembedahan mayat di Iskandariyah di bawah bantuan Dinasti Plotemais. Herophilos adalah orang yang pertama kali mengembangkan ilmu anatomi berdasarkan struktur asli tubuh manusia.
 
 PERATURAN ANATOMI DI INDONESIA
Pemerintah Indonesia mengeluarkan Peraturan Pemerintah Tentang Bedah Mayat Klinis dan Bedah Mayat Anatomis serta Transplantasi Alat dan atau Jaringan Tubuh Manusia pada 1981. Hal ini dilakukan untuk menjaga dan menghormati jenazah sebagai peninggalan manusia.
Bedah mayat klinis yang dimaksud adalah tindakan otopsi yang dilakukan untuk mengetahui sebab kematian pasien atau dalam kasus kriminal, dan memperoleh pengetahuan yang dianggap perlu. Bedah mayat anatomis adalah bedah mayat dalam rangka pendidikan.
 

SIFAT-SIFAT SINAR X

1. Sifat-sifat sinar X :


     Mempunyai daya tembus yang tinggi Sinar X dapat menembus bahan dengan daya tembus yang sangat besar, dan digunakan dalam proses radiografi.

        •Mempunyai panjang gelombang yang pendek Yaitu : 1/10.000 panjang gelombang yang kelihatan

        •Mempunyai efek fotografi. Sinar X dapat menghitamkan emulsi film setelah diproses di kamar gelap.

        •Mempunyai sifat berionisasi.Efek primer sinar X apabila mengenai suatu bahan atau zat akan menimbulkan ionisasi partikel-partikel bahan zat tersebut.

        •Mempunyai efek biologi. Sinar X akan menimbulkan perubahan-perubahan biologi pada jaringan. Efek biologi ini digunakan dalam pengobatan radioterapi.

2. Proses Terjadinya sinar X :

1. Di dalam tabung rontgen ada katoda dan anoda dan bila katoda (filament)
    dipanaskan lebih dari 20.000 derajat C sampai menyala dengan mengantarkan             listrik dari transformator,
2. Karena panas maka electron-electron dari katoda (filament) terlepas,
3. Dengan memberikan tegangan tinggi maka electron-elektron dipercepat
    gerakannya menuju anoda (target),
4. Elektron-elektron mendadak dihentikan pada anoda (target) sehingga
    terbentuk panas (99%) dan
sinar X (1%),
5. Sinar X akan keluar dan diarahkan dari tabung melelui jendela yang disebut
   
diafragma,
6. Panas yang ditimbulkan ditiadakan oleh radiator pendingin.
 3. Sinar-X Brehmsstrahlung


        Electron dengan kecepatan tinggi (karena ada beda potensial 1000 Kvolt) yang mengenai target anoda, electron tiba-tiba akan mengalami pelemahan yg sangat darastis oleh target sehingga menimbulkan sinar-x, sinar-x yg terjadi dinamakan “sinar-x brehmsstrahlung” or “braking radiation”. Pada waktu muatan (electron) yang bergerak dengan kecepatan tinggi (mengalami percepatan), karena adanya beda potensial, muatan (electron) akan memancarkan radiasi elektromagnetik dan ketika energy electron cukup tinggi maka radiasi elektromagnetik tersebut dalam range sinar-x.Sinar-x jenis ini tidak dipergunakan untuk XRD (X-Ray Difraction).
 4. Sinar-x karakteristik


        Electron dari katoda yang bergerak dengan percepatan yg cukup tinggi, dapat mengenai electron dari atom target (anoda) sehingga menyebabkan electron tereksitasi dari atom, kemudian electron lain yang berada pada sub kulit yang lebih tinggi akan mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh electron tadi, dengan memancarkan sinar-x yang memiliki energy sebanding dengan level energy electron. Karena sinar-X karakteristik memiliki Panjang gelombang tertentu yang dapat difilter, maka jenis ini banyak diaplikasikan untuk XRD (X-RAy Diffraction) dalam menentukan struktur material.

Pencucian Film Rontgen



TATA CARA MENCUCI FILM RONTGEN DENGAN MANUAL PROCCESSING

Setelah pemeriksaan x-ray sesuai prosedur Masuk kedalam kamar gelap kemudian usahakan tutup pintu dengan rapat karna film rontgen bisa terbakar terkena cahaya lampu kecuali lampu pijar merah yang ada didalam kamar gelap tersebut.

Buka kaset dan ambil jepitan film / hangger kemudian dimasukkan kedalam ; 
1. Pembangkitan (developing)


          Pembangkitan merupakan tahap pertama dalam pengolahan film. Pada tahap ini perubahan terjadi sebagai hasil dari penyinaran. Dan yang disebut pembangkitan adalah perubahan butir-butir perak halida di dalam emulsi yang telah mendapat penyinaran menjadi perak metalik atau perubahan dari bayangan laten menjadi bayangan tampak. Sementara butiran perak halida yang tidak mendapat penyinaran tidak akan terjadi perubahan.

Setelah terlihat bagian / organ yang di periksa lakukan : 

2. Pembilasan (rinsing)
Merupakan tahap selanjutnya setelah pembangkitan. Pada waktu film dipindahkan dari tangki cairan pembangkit, sejumlah cairan pembangkit akan terbawa pada permukaan film dan juga di dalam emulsi filmnya. Cairan pembilas akan membersihkan film dari larutan pembangkit agar tidak terbawa ke dalam proses selanjutnya.Pembilasan ini harus dilakukan dengan air yang mengalir selama 5 detik.

      
    Usahakan jangan ada bercak cairan yang tinggal di film rontgen akan mengganggu hasil film, kemudian lakukan :
      
      3. Penetapan (fising)
Diperlukan untuk menetapkan dan membuat gambaran menjadi permanen dengan menghilangkan perak halida yang tidak terkena sinar-X. Tanpa mengubah gambaran perak metalik. Perak halida dihilangkan dengan cara mengubahnya menjadi perak komplek. Senyawa tersebut bersifat larut dalam air kemudian selanjutnya akan dihilangkan pada tahap pencucian. Tujuan dari tahap penetapan ini adalah untuk menghentikan aksi lanjutan yang dilakukan oleh cairan pembangkit yang terserap oleh emulsi film.

4. Pencucian (washing)

Setelah film menjalani proses penetapan maka akan terbentuk perak komplek dan garam. Pencucian bertujuan untuk menghilangkan bahan-bahan tersebut dalam air. Tahap ini sebaiknya dilakukan dengan air mengalir agar dan air yang digunakan selalu dalam keadaan bersih.

5. Pengeringan (drying)

Merupakan tahap akhir dari siklus pengolahan film. Tujuan pengeringan adalah untuk menghilangkan air yang ada pada emulsi. Hasil akhir dari proses pengolahan film adalah emulsi yang tidak rusak, bebas dari partikel debu, endapan kristal, noda, dan artefak. Cara yang paling umum digunakan untuk melakukan pengeringan adalah dengan udara. Ada tiga faktor penting yang mempengaruhinya, yaitu suhu udara, kelembaban udara, dan aliran udara yang melewati emulsi.

Faktor - faktor pemotretan


 Faktor-faktor yang erat kaitannya dengan hasil suatu pemotretan terdiri atas :

®     Kilo Voltage (KV)
®     mA S (Milli Ampere Second)
®     Jarak Pemotretan
®     Grid
®     Ketebalan Obyek
®     Jenis Intensifying Screen
®     Jenis Film  Focal Spot
1. Kilo Voltage (KV)
  • Mengontrol Daya Tembus dan Kualitas Radiasi .
  • Dikaitkan dengan Jenis Obyek dan tebal  obyek .
  • Untuk menentukan patokan hubungan antara KV dengan tebal/ jenis obyek dapat dilihat pada tiap-tiap tabel pada pesawat yang digunakan.
  • Jika KV dinaikkan maka :
        1. Densitas foto naik
        2. Kontras foto berkurang
        3.  Radiasi hambur bertambah
  2. mA S (Milli Ampere Second)
¨          Mengontrol Kuantitas Radiasi
¨          mAS  = mA x S
¨          Contoh :
¨       mAs    =      mA                      x             S
¨       20        =      400                      x          0,05
¨       20        =      200                      x          0,01
¨       20        =      100                      x          0,02
¨       20        =      300                      x          …….. ?
¨       Untuk mencegah kekaburan foto karena pengaruh pergerakan obyek
       maka dipilih waktu eksposi yang singkat.
 3. Jarak Pemotretan
¨       Jarak Fokus ke Film (Focus Film Distance : FFD)
¨       Jarak Fokus ke Obyek (Focus Object Distance:FOD)
¨       Jarak Obyek ke Film) (Object Film Distance : OFD)
     
¨       A: Pemotretan dengan jarak seperti  di atas terlihat dalam  
           gambar untuk obyek  a  hasilgambaran sebesar  a 1
¨       B: Bila jarak Fokus - Film diperpendek obyek a akan tergambar lebih besar  (a2) -------->  :   a2  >   a 1
¨       C: Bila Jarak Obyek - film diperjauh , gambaran obyek  a
           akan lebih besar  ( a 3 >  a 1 )
¨       D: Bila jarak Fokus - Obyek diperjauh, gambaran akan  lebih
           kecil    dari semula  ( a 4 <  a 1 )                                          
¨       Kaitan  Jarak dengan  besaran  mAS  sebagai  pedoman adalah :
       Bila jarak pemotretan berubah maka besaran mAS harus dirubah agar  mendapatkan gambaran dengan densitas yang sama.
            mAs  baru    =           ( Jarak  fokus ke film baru) 2
                                          ( Jarak  fokus ke film lama ) 2           
4. Grid
          Alat untuk  mengurangi radiasi hambur agar tidak  sampai  ke film
          Penggunaan GRID berkaitan erat dengan pemberian mAs
          mAs  dengan grid  = Faktor Grid x mAs tanpa Grid
          mAs 2 =   faktor grid 2    x   mAs  1
                       faktor grid1
            Contoh :
        Grid dengan grid ratio 4 : 1 s/d  6 : 1    faktor grid = 2
        Grid dengan grid ratio 7 : 1 s/d 10 : 1   faktor grid = 3
        Grid dengan grid ratio  di atas 10 : 1    faktor grid = 4
        Pada pemotretan abdomen dengan Grid ( faktor grid = 3)
        memerlukan eksposi  75 KV , 60 mAs
        Jika dilakukan tanpa grid berapa kondisi pemetretan yang
        diberikan ?
      
          Hubungan KV dengan  mAs
 
          Setiapkenaikan 10 KV mAs dikurangi  50 %
      ( kondisi pemotretan 60 - 80 KV)
          KV1 5  x  mAs 1    =   KV 2  5    x   mAs 2
          kondisi di atas 100 KV
          Contoh :
          Foto Thorax  A  dibutuhkan  60 KV , 20 mAs
          Jika foto thorax A   diberikan  70 KV , berapa mAs nya ?
          Kenaikan 10 KV berarti mAs turun 50 % dari mAs  semula
          maka mAs yang diberikan sebesar  50 % x 20  =  10 mAs
5. Tebal Obyek
            Rule Of Thumb :
       Tiapketebalan naik 1 cm  maka :
        1. KV ditambah 2 KV pada pemotretan  40 - 80  KV
        2. KV ditambah 3 KV pada pemotretan  80 - 100 KV
       3. KV ditambah 4 KV pada pemotretan di atas 100 KV
       Rhinehart and Mc Lean :
       Dewasa :    KV  =  (d x 2)  +  22
       Anak     :    KV  =  (d x 3)  +  17                  d : Tebal  Obyek
          6. INTENSIFYING SCREEN
          mAs  dengan IS   =       mAs  tanpa IS          .
                                             Faktor Intensifikasi
     mAs 2   =    faktor intensifikasi 1     x  mAs 1
                            faktor intensifikasi 2
          Contoh :
       Foto dari suatu obyek memerlukan 55 KV , 5 mAs (menggunakan IS)
       dengan faktor intensifikasi = 15
       Bila pemotretan tanpa IS  berapa kondisinya ?
      
       mAs tanpa IS  =   mAs dengan IS x  faktor Intensifikasi
                                =              5               x       15
                                =                          75   mAs
PEMOTRETAN DENGAN GIPS  : 
Gips Kering  =   mAs   x       2       tanpa gips
Gips Basah    =   mAs   x    (3 - 4)  tanpa gips
7.  Jenis Film
      Jika film dengan  Low speed lebih tinggi   pemberian mAS nya    
        Jika film dengan  Fast speed lebih rendah  pemberian mAs nya
8.     Focal Spoot 
           Fokus kecil     sampai dengan 150mA     fokus besar  200 - 1000 mA

LUMBOSACRAL 1. anatomi lumbosacral           2. Persiapan Pasien    Tidak memerlukan persiapan kusus, hanya melepas  atau menyi...